Hari minggu kemaren, tepatnya tanggal 26 april 2009 merupakan hari pelantikan Ketua Kalbu Indramayu (keluarga Alumni Bimbel Terpadu Indramayu) yang baru, yaitu Fadli rohman, menggantikan Asirin yang sudah menyempurnakan masa jabatannya selama periode kepengurusan 2008-2009.
Tanggal 25 April 2009, saya mengisi malam minggu di kosan dengan maen game seperti biasanya. Hingga akhirnya, saya tidak menyadari kalau waktu sudah menunjukkan pukul 3.30 pagi!!!! Sesaat setelah saya menyadarinya, saya baru ingat bahwa paginya saya harus menghadiri acara pelantikan Ketua Kalbu. Akhirnya saya langsung bergegas untuk menyelinap masuk ke dalam hangatnya selimut biru yang ibu belikan setahun yang lalu. Tidak lama setelah itu, saya pun tertidur dengan sangaaaaat pulas…………………………..
……..Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang…. Apakah saya telat bangun??? Ya iya lah!!!! Jadwal acara pelantikan di mulai pukul 09.00 pagi sedangkan saya baru bangun jam 11.15… Telat banget!!!! Setelah mengumpulkan nyawa sejenak, saya langsung meraih Hp N70 warna hitam yang tergeletak berceceran di antara lekukan-lekukan selimut yang kusut, lalu saya lihat ternyata ada 1 sms masuk dari Asirin pada pukul 08.30 pagi “Acara serah terima jabatan sudah mau dimulai, ditunggu kedatangannya…“. Seketika itu juga saya langsung membalas dan menanyakan “acaranya selesai jam berapa? sorry boy saya baru bangun…“.
Tanpa menunggu balasan, akhirnya saya bergegas untuk menuju ke kamar mandi untuk melakukan aktivitas rutin,,,,
Sebelum melanjutkan cerita, saya akan memberitahukan kenapa saya begitu semangat untuk menghadiri acara pelantikan tersebut?? Apakah saya merupakan orang yang berperan dalam acara dan sangat ditunggu-tunggu sehingga tanpa kehadiran saya acaranya tidak akan berjalan??? Ternyata tidak. Saya hanya anggota biasa yang kebetulan merupakan golongan orang yang mempunyai usia lebih tua dibandingkan dengan anggota lain. Lalu kenapa saya begitu semangat?? Saya cuma ingin ngumpul-ngumpul, bertemu banyak teman, kenalan dengan junior cewe yang seger-seger (hi3x,,,) dan tentu saja ingin melihat sepenggal kisah yang nantinya akan menjadi sejarah sebuah organisasi yang saya cintai, Kalbu Indramayu.
Lanjut cerita, setelah saya selesai mandi kira-kira pukul 11.30, tanpa sempat memakai pakaian, saya langsung meraih kembali Hp N70 warna hitam dan membaca balasan dari Asirin dan ternyata “Acara masih akan berlanjut sampai pukul 02.00“. Setelah itu, saya langsung bergegas memakai pakaian dengan setelan kaos warna hijau army dengan celana jeans yang setiap hari saya pake dan sudah tidak dicuci selama 2 minggu, serta jaket kain warna putih hadiah dari mantanku waktu ulang tahunku yang ke-21. Saya mungkin sudah banyak kehilangan waktu di awal-awal acara, tapi setidaknya saya masih bisa mengejar waktu makan siang gratis dan mengikuti acara penutupan,,, he3x,,, jam 11.45 saya pun mulai bergerak menuju tempat acara….
Sekitar 1 km dari kosanku, ketika saya menaiki tangga yang juga merupakan akses masuk menuju Kebun Binatang Bandung dari jalan utama (kebetulan kosan saya deket bonbin), saya bertemu dengan seorang junior yang sebenarnya sama-sama anggota Kalbu, namanya susah, tapi teman-temannya memanggilnya Nunu. tampaknya dia baru pulang dari kampus. Dilihat dari setelan pakaiannya, tampaknya dia habis maen volley. Tanpa ragu, saya bergegas menyapa dan langsung mengajaknya untuk ikut menghadiri acara pelantikan lagi. loyalitas dia terhadap kalbu memang sudah tidak diragukan lagi. Tanpa rasa ragu dan cemas, dia pun mengiyakan ajakan saya. Setelah itu, dia meminta saya untuk menunggu di ujung tangga karena dia mau pulang dulu untuk ganti pakaian. Lima menit kemudian, akhirnya dia muncul dengan setelan yang berbeda…. Akhirnya kami pun mulai berangkat menuju tempat acara dengan menaiki angkot…..
Singkat cerita aja, saya tidak akan bercerita banyak dalam perjalanan menaiki angkot karena tidak ada hal-hal yang berkesan, soalnya kami berdua duduk di sebelah pak sopir yang sedang mengemudikan kendaraannya, jadi kami tidak bisa memperhatikan penumpang yang ada. Coba kalo naiknya di belakang, bakal saya ceritain dech, terutama cewe-cewe cantik yang naik turun angkot, beneran koq ga boong…
Akhirnya kami sampai juga di tempat acara…. Dalam agenda acara, jam 12.15 merupakan waktu istirahat, sholat dan makan… Setelah kami turun dari angkot, kami langsung bergegas menuju ke Masjid Al-furqon UPI untuk bergabung dengan peserta lainnya yang sedang melaksanakan shalat dzuhur. 10 menit setelah itu, rombongan peserta berduyun-duyun bergerak menuju tempat acara yang kebetulan hanya berjarak 100 meter dari masjid untuk melanjutkan acara selanjutnya, acara yang sangat ditunggu-tunggu: Makan!!!! Huuuh,,, sempurna sudah rasanya, baru dateng langsung disuguhin dengan sebuah hidangan,,, nikmat… Udah gitu, sesuai dengan yang diharapkan, acara ini juga banyak dihadiri oleh mahasiswi-mahasiswi junior yang caem-caem,,,, hu hu hu….
Jam 12.45,, selama acara makan-makan berlangsung, Inuy, seorang mahasiswi UPI angkatan 07 (maaf ya Nuy kalo salah nyebutin angkatan) yang merupakan ketua panitia acara tersebut datang menghampiri saya… “Akhirnya akang datang juga,,,, dari awal saya bingung mencari-cari orang yang tepat untuk mengisi acara nanti. Bantuin kami ya kang….“. Begitulah kira-kira yang dia katakan. Saya kira acara serah terima jabatan sudah berlangsung sebelum saya datang, ternyata acara puncaknya baru akan dilaksanakan nanti jam 01.00 siang. Dalam hati saya sempat seneng akhirnya kedatangan saya ada manfaatnya juga,,,he3x,,,, “emang apa yang bisa saya bantu nuy??“. Dengan nada pelan dia memberitahukan sebuah rencana, “kami tidak mau acara pelantikan berjalan dengan lempeng-lempeng aja. kami mau akang membuat sebuah tindakan yang bisa menaikkan tensi ketika ketua baru membacakan usulan program kerja, membuat Ketua baru kita panik dan kalo bisa ampe nangis sekalian. Kami juga sudah minta tolong ke akang-akang yang lainnya koq…”. Saya kira apa,,,, intinya, mereka mau saya menjadi seorang destroyer,,, huuh,,, apa mau dikata. Image saya memang sudah terbentuk seperti itu,,, Krishna Rinaldi memang sudah dikenal mahir dalam membuat sebuah skenario konflik,,. Ya sudah lah, saya kira itu baik juga untuk merangsang peserta yang lain untuk belajar mengkritik dan membangkitkan gairah diskusi, tentunya tetap menjaga agar diskusi berjalan dengan sehat. Lagian, saya juga sebenarnya menikmati peran ini,,, he3x,,,
“ok nuy,, saya bersedia…..”.
Apa pun lah, yang penting saya bisa mewarnai jalannya acara,,, dan yang pasti, tetep jadi pusat perhatian…. Coool!!!
Jam 01.00, acara serah terima jabatan pun dimulai dengan pembukaan dari pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian kata-kata terakhir berupa saran dan wejangan-wejangan dari ketua yang lama, Asirin, dan setelah itu dilanjutkan dengan serah terima jabatan secara simbolik dari ketua yang lama ke ketua yang baru.
Acara berjalan dengan lancar hingga detik-detik pembacaan usulan program kerja. Usulan program kerja disampaikan oleh Fadli dengan didampingi oleh seorang moderator yang bertugas mengatur jalannya acara. Selang 5 menit pembacaan usulan, dengan suara yang sangat lantang, saya berusaha untuk menghentikan pembacaan usulan program kerja tersebut….
“Maaf fad, kalo saya memotong. Sebaiknya kamu tidak usah membuang-buang tenaga untuk melanjutkan usulan program kerja karena saya masih meragukan keabsahan pengangkatan kamu sebagai ketua!!!!“
Sesaat setelah saya mengutarakan statemen itu, secara spontan muka Fadli menjadi merah dan terlihat gelagapan. Sesaat itu juga saya menoleh ke belakang dan melihat bahwa beberapa panitia tersenyum dengan pandangan mata ke arah saya…. Saya kira saya sudah berhasil memulai skenarionya….
Tanpa menunggu lebih lama lagi kemudian saya kembali bersuara untuk mengutarakan sebuah alasan….
“Saya tidak melihat adanya bukti-bukti autentik yang menunjukkan bahwa kamu lah yang memenangkan perolehan suara terbanyak pada pemilihan kemaren. Seharusnya pengangkatan kamu diikuti dengan laporan perolehan suara yang ditandatangani oleh ketua pemilihan. bagaimana acara ini bisa dilanjutkan sedangkan bukti-bukti yang saya minta tidak ada“
Sesaat kemudian, dengan panik dan terkesan emosional, Fadli memberikan sebuah penjelasan
“Justru itu kang, Fadli juga gak ngerti. Semua ini di luar kendali Fadli karena seharusnya ketua pemilihan masih bertanggung jawab sampai acara ini selesai. Tapi yang ada, semuanya diserahkan ke Fadli. Fadli juga menganggap hal ini sebagai sesuatu yang aneh“.
Tampaknya suasana menjadi semakin serius. Ekpresi muka Fadli menjadi semakin tidak jelas dan terbawa suasana. Sementara di belakang, saya melihat senyum panitia semakin melebar saja. Tapi kekeruhan ini tidak boleh semakin dalam karena akan rawan menimbulkan sikap saling menyalahkan antar anggota. Untung saja ada Asirin yang memberikan sebuah argumen yang berusaha meredam ketegangan tersebut…
“Seharusnya kita tidak perlu mempermasalahkan hal ini. Ini adalah metode baru dalam pemilihan ketua. Kesalahan-kesalahan yang terjadi masih dipandang sebagai hal yang wajar karena mereka baru sekali ini melakukan metode seperti itu. Ditambah lagi waktu persiapan yang sangat singkat. Dan saya lihat, mereka sudah berjuang dengan maksimal. Seharusnya kita mengapresiasi usaha mereka“.
Kemudian saya kembali mencoba memberikan sebuah pancingan dengan harapan bahwa tensi perdebatan pada waktu itu bisa kembali naik.
“Saya tidak sedang berusaha untuk menyalahkan panitia pemilihan. Yang saya butuhkan, adalah naiknya Fadli sebagai ketua yang baru harus diawali dengan laporan kerja panitia pemilihan diikuti dengan berita acara hasil pemilihan“
Kemudian salah satu dari peserta mengajukan sebuah solusi (maaf ya mas saya lupa namanya)
“Kalo begitu kita dengarkan saja penjelasan dari Irianto. Beliau ini kan merupakan salah satu anggota panitia pemilihan juga“
Seluruh peserta sepakat untuk mendengarkan sepatah dua patah kata dari Irianto mengenai ringkasan kerja selama proses pemilihan. Tanpa ragu-ragu Irianto pun mencoba menjelaskan kronologi selama proses pemilihan.
“Sebenarnya struktur kepanitiaannya sendiri secara resmi tidak pernah dibentuk. Yang saya tahu, yang secara resmi ditunjuk hanya Wirana, yakni sebagai ketua pemilihan. Selanjutnya, orang-orang yang ditunjuk oleh Wirana termasuk saya hanya bertugas untuk mensosialisasikan kepada seluruh anggota. Kendati begitu, saya sedikit banyak tahu tentang rekapitulasi hasil suara yang dipindahkan ke beberapa lembar kertas karena melihat jumlah suara yang masuk (115 suara) tidak memungkinkan untuk tetap disimpan dalam inbox Hp. Perolehan suara menyatakan bahwa suara terbanyak diraih oleh Fadli dengan perolehan suara 57,14% disusul Edi dengan perolehan suara 22,86% dan Sodikin dengan perolehan suara 20,00%. Kendati suara yang terkumpul terlihat cukup banyak, namun jika dibandingkan dengan jumlah anggota total, masih banyak anggota yang tidak berpartisipasi dalam pemilihan tersebut. Bahkan saya menerima beberapa tanggapan-tanggapan yang cukup dalam dari beberapa anggota seperti “maaf mas saya tidak kenal dengan calon ketuanya“. Atau ada lagi komentar yang lebih dalam dari anggota dari luar Kota Bandung “saya hanya orang-orang yang terbuang, kalo pun saya ikut berpartisipasi, nasib saya tidak akan berubah“. Saya kira sukup seperti itu saja laporan dari saya. Dan jika masih tidak percaya, bisa langsung dilihat setelah ini di mailist Kalbu. Terima kasih“.
Mendengar penjelasan dari Irianto, Fadli merasa mendapatkan sebuah energi baru. Ekspresi mukanya sedikit kelihatan lebih tegar dan berusaha untuk menenangkan diri. Setelah itu, dia kembali mencoba untuk mengeluarkan sebuah tanggapan…
“Kalo Fadli seh ikut-ikut aja. Kalo keabsahan pemilihan kemaren diragukan, Fadli siap untuk melakukan pemilihan ulang, tentunya dengan resiko bakal memakan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih besar“
Kondisi sudah mulai mendingin, sudah saatnya saya menutup kekacauan pada babak pertama ini…
“Ya sudah kalo gitu tinggal diserahkan saja kepada seluruh peserta. Apakah mereka merasa puas dengan penjelasan tersebut atau menuntut untuk dilakukan pemilihan ulang”
Setelah itu moderator menyerahkan kembali keputusannya kepada seluruh peserta. Dan tampaknya seluruh peserta tidak keberatan jika acara dilanjutkan kembali dan mengakui keabsahan Fadli sebagai ketua baru.
Dengan melihat kondisi moderator yang kurang bersemangat, Asirin kemudian memberikan masukan untuk mengganti moderator dari yang tadinya Kusna menjadi Irianto. Seluruh peserta sepakat dan Irianto dinyatakan sebagai moderator yang baru.
Kondisi pun mulai normal kembali. Fadli pun kembali melanjutkan pembacaan usulan program kerjanya. Ditengah-tengah penjelasan tersebut, kondisi saya menjadi kurang konsentrasi ketika iring-iringan makanan kecil melewati barisan saya. Akhirnya selama beberapa menit konsentrasi saya tertuju kepada makanan tersebut, begitu juga dengan peserta lainnya. Suasana pun menjadi semakin gaduh ketika beberapa orang berebut makanan. Karena takut kehabisan makanan, saya pun ikut berjuang dalam mengais barang sesuap dua suap makanan itu hingga akhirnya makanan itu habis tidak terasa. Kemudian saya mengajukan protes kepada panitia karena saya tidak kebagian makanan. Dan ternyata panitia hanya bisa tersenyum karena mereka tau, justru saya yang menghabiskan makanan itu… He3x,,, saya hanya bisa tersenyum malu-malu,,, Ternyata saya menghabiskan makanan itu dengan tidak sadar….. Hi3x,,,
To be continue…..


