Discuss: Mengapa orang berdo’a dengan perantara Facebook???

Berdo'a

Bagi para Facebooker, pasti kita sangat akrab sekali dengan yang namanya update status. Setiap kali kita membuka halaman pertama pada Facebook, sudah tentu kita akan melihat tulisan-tulisan status yang dituliskan oleh temen-temen kita. Isinya pun macam-macam, ada yang curhat, ada yang marah-marah, ada yang laporan aktivitas sehari-hari, berdakwah hingga yang namanya berdo’a. Nah khusus untuk yang isi status yang terakhir, saya akan membahasnya secara lebih mendalam.

Sudah barang tentu, bagi kita seorang muslim, membaca status yang bernuansa Islami akan membuat hati kita tergetar, apalagi jika dirangkai dengan bahasa yang indah. Tidak salah jika kemudian status tersebut kebanjiran banyak jempol dari temen-temennya. Lalu bagaimana dengan berdo’a melalui perantara status di Facebook? Apakah status seperti itu juga layak diapresiasi sama halnya dengan status-status Islami yang lain? Melalui tulisan ini saya akan mencoba menjawab berbagai macam pertanyaan melalui buah pemikiran yang saya miliki. Namun demikian, tulisan saya ini sangat lemah kebenarannya jika dilihat dari sudut pandang hukum Islam karena tidak didukung oleh dalil-dalil yang jelas. Oleh sebab itu, maka saya membuka ruang diskusi dengan tujuan untuk memperkuat argumen atau malah membantah, tentunya dengan dasar-dasar tertulis yang temen-temen ketahui….

Secara substansi, berdo’a itu adalah wujud permohonan seorang hamba kepada Tuhan. Karena Tuhan itu Maha Mendengar, jadi kita ga perlu memakai perantara apa pun termasuk FB. Kecuali jika seseorang mempunyai tujuan yang lain di luar substansinya. Misalkan minta dido’ain oleh temen-temen lain di FB atau untuk berdakwah. Namun begitu, penyampaiannya pun harus sesuai dan tidak berlebihan karena berpotensi besar untuk riya.

Lebih jauh lagi, saya akan mencoba untuk menjelaskan definisi berdo’a, minta dido’ain dan berdakwah berdasarkan pemahaman yang saya miliki….

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, berdo’a didefinisikan sebagai wujud permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan begitu, sudah barang tentu dialog yang terbentuk pun adalah dialog antara hamba dan Tuhannya. Lebih utama lagi, berdo’a dilakukan dengan suasana yang khusyu’ dan bahasa yang santun sebagai wujud representasi pengagungan hamba kepada Sang Pemiliknya.

Misalkan:

Ya Allah, besok ayahku akan keluar kota untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami bagi istrinya dan ayah bagi anak-anaknya. Mohon perlindungan-Mu agar beliau senantiasa diberi keselamatan dan diberi kemudahan dalam menyelesaikan semua pekerjaannya,, Amien….

Kemudian yang kedua, minta dido’ain didefinisikan sebagai wujud permohonan tolong seseorang kepada teman-temannya agar ikut mendo’akan sesuai dengan apa yang dia harapkan. Tentu saja konteksnya sangat berbeda dengan berdo’a karena dialog yang terbentuk adalah dialog antara satu insan dengan insan yang lain. Bahasa penyampaiannya pun akan jauh berbeda dengan bahasa yang disampaikan ketika kita berdo’a langsung kepada Tuhan.

Misalkan:

Temen-temen, besok ayahku akan keluar kota untuk menunaikan kewajibannya. Minta do’anya ya,,, agar beliau selalu diberi keselamatan dan diberi kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaannya….”

Kemudian yang terakhir, berdakwah didefinisikan sebagai sebuah usaha yang dilakukan untuk menyampaikan sesuatu yang benar. Dalam hal ini konteksnya adalah dalam hal berdo’a. Cara penyampaiannya pun bisa dalam bentuk dalil-dalil atau bisa juga dalam bentuk cerita-cerita penuh hikmah….

Misalkan:

Contoh dari seorang kawan: kita menyampaikan kepada orang lain tentang bagaimana tata cara berdo’a yang baik dan benar berdasarkan aturan-aturan yang berlaku dalam islam dengan maksud agar orang menjadi tahu dan bisa mengambil ibrohnya….

Setelah kita memahami definisi tersebut, tentu lah kita akan merasa bingung dan bertanya-tanya… Kenapa orang berdo’a [yang notabene adalah diskusi antara hamba dengan Tuhannya] harus disampaikan melalui status di Facebook [yang notabene adalah sebuah ruang komunikasi antar insan dengan insan],,, tidak salah jika ada pertanyaan menggelitik yang disampaikan oleh salah satu temen saya… “emang Tuhan punya account di Facebook ya?” ^_^

Jika seseorang berdo’a sesuai dengan substansinya, seharusnya mereka ga perlu mempublikasikan isi do’anya itu kepada khalayak ramai. Ada pun jika ada maksud di balik itu, misalkan minta dido’ain ma yang lain atau berdakwah, tentu lah di sampaikan dengan redaksi yang baik dan benar [tidak seperti berdialog antara hamba dengan Tuhannya... ] ^_^

Demikian seuntai pemikiran dari saya, mudah-mudahan bermanfaat. Mohon maaf jika kata-kata saya terkesan menyerang sebagian orang. Di luar itu, saya hanya berusaha untuk menyampaikan sesuatu yang benar menurut pemikiran saya….

12 Tanggapan to “Discuss: Mengapa orang berdo’a dengan perantara Facebook???”

  1. hm,, ikut nimbrung ya na,,

    ttg berdo’a dgn perantara facebook,,
    klo dari kacamata saya (yg minus 1.5 ^^), facebook rupanya gak hanya jadi media jejaring sosial (antar manusia), utk saling berkomunikasi,, tapi juga sudah jadi salah satu media ‘curhat’ layaknya buku diary,,

    seperti layaknya buku diary, kondisi apapun yg dirasakan saat ini secara otomatis diupdate ke status,, termasuk perasaan (salah satunya ya do’a itu yg dtujukan sebenarnya utk Allah yg dalam pemikiran saya sepertinya gak punya account facebook, tapi pasti Allah ada dimana-mana, menyaksikan setiap yg kita lakukan, termasuk ketika kita ngefacebook ^^)

    naah,, klo niatnya ‘curhat’ menurut saya gak masalah na,,

    karena gimanapun, itu cuma ekspresi kebutuhan kita terhadap Allah (yg ada di mana-mana),, bukan memaksa facebook utk menyampaikan do’a kita pd Allah ^^

    wallahua’alam

    – just my opinion –

    • Boleh ditanggapin ya mba? Hehehehehehe

      Kalo menurut saya, yang namanya curhat itu kan privasi, ga harus semua orang tau. Kalo jaman saya dulu masih muda, saya curhatnya itu cuma sama orang-orang dekat aja [hehehehe,,, ^_^]

      Kalo sekarang memang banyak terjadi pergeseran. Saya juga sering bercurhat ria di Facebook, mungkin berdo’a di Facebook juga pernah. Cuma masalahnya, saya koq nemuin kejanggalan di sini…

      Kalo memang tujuannya untuk curhat, kita lihat dulu curhatnya itu ditunjukkan untuk siapa. Kalo memang pengen curhat ke temen-temennya di facebook, ya harus dilakukan seperti layangnya berkomunikasi dengan antar manusia, bukan malah bahasa komunikasi antar manusia dan Tuhannya yang diekpos…

      Mungkin benar bahwa orang-orang yang berdo’a mempunyai maksud yang baik [bukan maksud riya, popularitas atau mencari jempol semata]. Namum sebenernya ini hanya permasalahan redaksi. Hanya saja, jika suatu maksud disampaikan dengan redaksi yang tidak tepat, maka maksud dari niat utamanya itu sendiri akan kabur.

      Lebih jauh lagi mungkin mba baca komentar Mas Muhtono di bawah…. komentarnya lebih mempunyai dasar… Hehehehe

  2. Muhtono Berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Mendiskusikan fenomena berdo’a lewat facebook ini rasanya cukup menarik mengingat permasalahan ini sering dijumpai di status facebook.
    Kasus yg ingin ana komentari adalah seperti pada isi kotak yg pertama (“Ya Allah, besok ayahku…dst).

    Dalam melakukan ibadah, tentunya kita berharap terhindar dari sifat riya’. Kita merujuk pada hadits berikut, Dari Abu Hurairah r.a.
    bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Allah SWT
    berfirman,’Aku Maha Kaya, sangat tidak membutuhkan sekutu, tidak pula membutuhkan amal yang syirik. Barang siapa
    berbuat suatu amal yang ada percampuran syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan amal syiriknya itu.’ (HR. Muslim).

    Inilah yang hendaknya kita khawatirkan terhadap permasalahan di atas. Mungkin tujuannya adalah berdo’a, tapi karena tata cara dan tempatnya tidak pas, bisa memutarbalikkan amalan itu sendiri, bahkan lebih condong ke sifat riya’. Sifat riya’ sangat tersembunyi melebihi semut yang sedang berbaris…
    Mungkin kita sibuk demi untuk meng_update status berisi do’a, tetapi jarang sekali intensitasnya bersimpuh untuk bermunajat kepada Allah. Apakah ini yang tidak dikatakan hanya melakukan amalan jika orang lain mengetahui? Apakah ini yang dinamakan keikhlasan dalam beribadah?

    Kemudian dalam menjalankan syariat (ibadah), NIAT saja tidak cukup, tapi harus melihat juga bagaimana ibadah itu dilakukan, kaifiyah/tata cara atau pun tempatnya. Misalkan, orang yang hendak sholat. Niatnya adalah hanya untuk Allah, niatnya adalah murni untuk menjalankan kewajibannya. Tp. kalau pelaksanaannya di kuburan, apakah ini sesuai syariat?? Tentunya tidak…

    Wallahu ta’ala a’lam bisshowab.

    Mgkin dicukupkan dulu komenter ana. Semoga bermanfaat.

    Wassalamu’alaikum wr.wb

  3. maksudnya mungkin baik,,, biar diaminin sama teman-teman..

    • Mungkin ini hanya masalah redaksi aja mas…. Jika kita minta diaminin ma temen-temen namun dengan bahasa layaknya kita berkomunikasi dengan Tuhan, maksud sebenarnya dari si pendo’a juga akan kabur.

      Seperti yang saya jelaskan di atas, jika kita pengen diaminin oleh teman-teman, bahasa yang digunakan pun layaknya sebuah komunikasi antar manusia saja…

      Hehehehe,,,, maaf mas kalo salah….

  4. Tergantung niatnya. Mungkin karena enak aja.

    • Krishna Berkata

      Mungkin memang begitu….

      Jujur kalo bagi saya, karena memang penggunaan bahasanya kurang tepat dan terkesan “ngeksis”, jadi saya kurang nyaman ngeliatnya… Hehehehe,,, ini cuma opini saya aja lho ya…

      Btw,, saya manggilnya Mba, Mas, Ibu ato siapa? menjual produk kopi ya???

      Salam kenal….

  5. Facebook memang isinya gado2 krish.. membahas penyimpangan prilaku di fb terlalu banyak.. :) Tapi memang perlu hati2 bagi masing2 kita, karena di fb pintu riya terbuka lebar..

  6. Diskusi ini sedikit mencerahkan saya. pasalnya saya juga pernah iseng nanya ma temen, “Emang Tuhan maen FB?”…sedangkan menurut sy do’a harus kusyuk dan ditempat yg semestinya. thanks atas informasinya

  7. andry Berkata

    akhirnya saya menemukan juga diskusi tentang ini..
    Saya sdh merasakan kejanggalan tentang berkomunikasi (do’a) dengan Allah melalui facebook.. Ada pencerahan setelah ikut nimbrung di diskusi ini.. terima kasih..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.