Publicity Setting, Fitur Penting pada Facebook yang Jarang Dipakai oleh Netizen

Publicity setting adalah fitur yang disediakan oleh facebook yang akan muncul pada saat kita akan membuat sebuah pembaruan status atau memposting sesuatu di dalam facebook. Fitur ini terletak di bagian kanan bawah, posisinya tepat di sebelah kiri tombol “post“. Fitur ini berfungsi untuk mengatur siapa saja yang boleh melihat dan berkomentar pada postingan yang telah kita buat.

Publicity setting, pilihan siapa yang bisa melihat pembaruan status di facebook.

Publicity setting, pilihan siapa yang bisa melihat pembaruan status di facebook.

Jaringan pertemanan di facebook pada dasarnya menyerupai kondisi dan interaksi sosial yang ada dunia nyata. Kenyamanan sebuah lingkungan sosial di facebook akan bisa diwujudkan jika masing-masing individu yang ada di dalamnya mampu berperilaku sesuai dengan norma dan aturan yang ada di lingkungan sosial tersebut. Terutama aturan-aturan mengenai topik-topik apa saja yang boleh diposting dan dibagikan ke masyarakat facebook secara bebas, maupun topik-topik pribadi apa saja yang hanya boleh diposting dan dibagikan kepada kalangan terbatas di dalam facebook.

Kita mungkin pernah membaca status teman kita di facebook yang berisi tentang ekspresi kekesalan yang dia luapkan ketika sedang bertengkar dengan keluarganya. Mungkin sebagian orang berfikir, mengeluarkan unek-unek seperti itu merupakan jalan terbaik agar dirinya menjadi lebih tenang. Namun di sisi lain, dia tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah membuka aib keluarganya dan membagi-bagikan secara bebas kepada khalayak ramai yang ada di facebook.

Apa yang akan kita rasakan jika kita menemukan ada teman kita yang memposting status tersebut? Mungkin sebagian orang akan merasa sebel atau terganggu, karena hal itu merupakan privasi yang tidak layak dipublikasikan kepada khalayak ramai.

Untuk itu lah publicity setting itu bisa dimanfaatkan. Bagi yang memang hobby curhat di facebook dan membagikan hal-hal yang bersifat privasi seperti masalah keluarga dll, masih bisa tetap dituliskan di facebok, namun dengan pengaturan publicity terlebih dahulu. Misalkan dengan membuat posting yang hanya bisa dibaca dan dikomentari oleh keluarga atau teman-teman dekat saja. Jadi, orang lain yang tidak punya kepentingan terhadap postingan status tersebut, tidak merasa terganggu.

 Berikut ini fungsi pengaturan publicity yang perlu kita ketahui:

Public, merupakan pengaturan yang membolehkan semua orang yang ada di facebook (termasuk orang-orang yang tidak berteman dengan kita) untuk membaca dan mengomentari setiap postingan yang telah kita bagikan di facebook. Dengan kata lain, kita tidak boleh protes atau marah-marah jika ada orang lain yang tidak kita kenal membaca dan mengomentari apa yang sudah kita tulis. Kecuali kalau komentarnya sudah kurang ajar dan di luar batas etika.

Friend, merupakan pengaturan yang membolehkan semua teman yang ada di facebook untuk membaca dan mengomentari setiap postingan yang telah kita bagikan di facebook.

Only Me, merupakan pengaturan yang hanya membolehkan pemilik akun sendiri yang bisa melihat postingan status facebook tersebut. Ini ibarat sebuah diari. Kita menulis status facebook yang hanya kita sendiri yang bisa lihat.

Custom, merupakan pengaturan khusus yang membebaskan kita untuk menentukan siapa-siapa saja teman yang diperbolehkan/tidak diperbolehkan untuk membaca status facebook yang kita buat. Dengan pengaturan ini, status-status yang bersifat privasi atau bersifat rahasia hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu yang kita kehendaki.

Demikian penjelasan mengenai publicity setting pada saat melakukan pembaruan status di facebook. Mudah-mudahan kita bisa lebih bijak lagi dalam memanfaatkan kemajuan teknologi, termasuk dengan menggunakan facebook dengan semestinya. Semoga artikel ini bermanfaat.

Advertisements

Penyakit Berbahaya Itu Bernama Nomophobia

Fenomena nomophobia yang saat ini semakin populer di kalangan pengguna ponsel pintar menjadi topik yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Apalagi, berdasarkan data survey yang saya dapatkan di internet menunjukkan bahwa pada tahun 2008, penderita nomophobia di Amerika mencapai 53%. Yang lebih mencengangkan, empat tahun kemudian (2012), jumlah tersebut naik secara drastis mencapai 66% (77% di antaranya merupakan remaja yang berumur 18 – 24 tahun).

Fakta menarik tentang nomophobia

Fakta menarik tentang nomophobia (trendhunter.com)

Fakta tersebut membuat saya semakin penasaran untuk mengenal nomophobia lebih dalam. Apakah gejala tersebut hanya terjadi di Amerika atau jangan-jangan, saya dan orang-orang di sekitar sudah ada yang menderita nomophobia? Untuk itu, maka saya mencoba untuk mengenal nomophobia lebih dalam dan apa bahaya kelainan psikis tersebut buat diri kita.

Apa itu Nomophobia?

Nomophobia adalah sebuah penyimpangan psikis yang dipengaruhi oleh ketergantungan seseorang terhadap gadget. Nomophobia sendiri merupakan sebuah singkatan yang berasal dari bahasa inggris, yaitu No Mobilephone Phobia, yang mempunyai arti sebuah kecemasan berlebih yang dirasakan oleh seseorang karena terpisah dari gadget yang dia miliki. 70% perempuan pengguna ponsel pintar akan merasa cemas jika jauh dari gadgetnya, sedangkan 61% laki-laki mengalami hal yang sama.

Ketergantungan pada Gadget (savemyboredom.com)

Ketergantungan pada Gadget ( savemyboredom.com )

Perkembangan ponsel pintar yang semakin pesat ternyata tidak hanya menimbulkan efek positif buat masyarakat, namun ada juga efek negatifnya, salah satunya adalah nomophobia. Berdasarkan penelusuran yang lebih mendalam, dua faktor utama penyebab ketergantungan adalah game addicted (kecanduan game) dan  sindrom FoMO (Fear of Missing Out) atau lebih dikenal sebagai ketergantungan seseorang terhadap jejaring sosial.

Kedua gejala psikis mulai menarik perhatian pengamat psikologi di tahun 2008, ketika Iphone dan Android Phone mulai dikenal oleh masyarakat luas. Tahun tersebut adalah tahun dimulainya era baru dalam berinternet, yaitu tahun ketika sebuah internet bisa diakses dalam genggaman tangan kita, dimana pun dan kapan pun kita mau.

Apakah Nomophobia berbahaya?

Kebanyakan orang berfikir bahwa ketergantungan terhadap ponsel pintar bukan merupakan sebuh permasalahan yang serius. Padahal ada beberapa efek cukup berbahaya yang ditimbulkan oleh nomophobia. Berikut ini adalah beberapa efek negatif dari nomophobia yang berhasil saya rangkum:

  1. Stres. Penderita nomophobia memiliki kecenderungan terhadap tingkat stres yang tinggi. Tingkat stres ini lah yang kemudian menjadikan tingkat emosional orang tersebut menjadi tidak stabil.

    nomophobia_image_title_qj7te

    Stres akibat telpon genggam

  2. Kurang Fokus. Penderita nomophobia akan memiliki keterikatan dengan gadget yang sangat kuat. Hal ini lah yang menyebabkan pikiran orang tersebut akan selalu fokus dengan gadgetnya, meskipun dia sedang melakukan aktifitas lain. Ketidakfokusan ini akan menjadi hal yang fatal manakala orang tersebut sedang melakukan pekerjaan berbahaya seperti menyetir, membawa alat berat, dan sebagainya.
    Seorang pengendara yang terlalu fokus dengan gangetnya

    Seorang pengendara yang terlalu fokus dengan gangetnya

    Berdasarkan statistik yang terjadi di Amerika, pada tahun 2012, 26% kecelakaan pada lalu lintas disebabkan oleh ketidakfokusan pengendara yag diakibatkan oleh penggunaan ponsel pintar pada saat berkendara. Sedangkan 1500 pejalan kaki mengalami cidera yang diakibatkan oleh pengendara yang tidak fokus akibat ponsel pintar.

  3. Anti sosial. Penderita nomophobia menghabiskan lebih banyak waktu dengan membuka jejaring sosial atau bermain di ponsel pintarnya. Mereka akan terjebak dengan kebahagiaan yang mereka dapatkan di dunia maya. Penderita Nomophobia lebih mementingkan interaksi di dunia maya dibanding dengan komunikasi face to face dengan teman di dunia nyata.
    Pasangan yang sama-sama sibuk dengan gangetnya masing-masing

    Pasangan yang sibuk dengan gangetnya masing-masing

    Berdasarkan fakta yang ada di sekitar saya, banyak sekali pasangan yang hubungannya semakin renggang karena satu sama lain memilih untuk lebih perhatian kepada ponsel pintarnya dibandingkan dengan pasangannya.

  4. Insomnia. Salah satu efek stres akibat nomophobia bisa diekspresikan dalam bentuk gejala insomnia. Rasa tidak mau berpisah dengan ponsel pintar memberi instruksi kepada otak untuk terus menerus memikirkannya sehingga mengusir rasa kantuk. Penderita nomophobia biasanya tidak bisa jauh dari telfon genggam ketika akan tidur.

    Nomophobia

    Insomnia

Perkembangan ponsel pintar yang semakin pesat dari tahun ke tahun memungkinkan penderita nomophobia akan semakin meningkat di kemudian hari. Mudah-mudahan kita bisa menjaga diri kita dan orang di sekitar kita agar bisa menjauh dari bahaya yang ditimbulkan oleh nomophobia.

Sumber : psychologytoday.com.

Discuss: Mengapa orang berdo’a dengan perantara Facebook???

Berdo'a

Bagi para Facebooker, pasti kita sangat akrab sekali dengan yang namanya update status. Setiap kali kita membuka halaman pertama pada Facebook, sudah tentu kita akan melihat tulisan-tulisan status yang dituliskan oleh temen-temen kita. Isinya pun macam-macam, ada yang curhat, ada yang marah-marah, ada yang laporan aktivitas sehari-hari, berdakwah hingga yang namanya berdo’a. Nah khusus untuk yang isi status yang terakhir, saya akan membahasnya secara lebih mendalam.

Sudah barang tentu, bagi kita seorang muslim, membaca status yang bernuansa Islami akan membuat hati kita tergetar, apalagi jika dirangkai dengan bahasa yang indah. Tidak salah jika kemudian status tersebut kebanjiran banyak jempol dari temen-temennya. Lalu bagaimana dengan berdo’a melalui perantara status di Facebook? Apakah status seperti itu juga layak diapresiasi sama halnya dengan status-status Islami yang lain? Melalui tulisan ini saya akan mencoba menjawab berbagai macam pertanyaan melalui buah pemikiran yang saya miliki. Namun demikian, tulisan saya ini sangat lemah kebenarannya jika dilihat dari sudut pandang hukum Islam karena tidak didukung oleh dalil-dalil yang jelas. Oleh sebab itu, maka saya membuka ruang diskusi dengan tujuan untuk memperkuat argumen atau malah membantah, tentunya dengan dasar-dasar tertulis yang temen-temen ketahui….

Secara substansi, berdo’a itu adalah wujud permohonan seorang hamba kepada Tuhan. Karena Tuhan itu Maha Mendengar, jadi kita ga perlu memakai perantara apa pun termasuk FB. Kecuali jika seseorang mempunyai tujuan yang lain di luar substansinya. Misalkan minta dido’ain oleh temen-temen lain di FB atau untuk berdakwah. Namun begitu, penyampaiannya pun harus sesuai dan tidak berlebihan karena berpotensi besar untuk riya.

Lebih jauh lagi, saya akan mencoba untuk menjelaskan definisi berdo’a, minta dido’ain dan berdakwah berdasarkan pemahaman yang saya miliki….

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, berdo’a didefinisikan sebagai wujud permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan begitu, sudah barang tentu dialog yang terbentuk pun adalah dialog antara hamba dan Tuhannya. Lebih utama lagi, berdo’a dilakukan dengan suasana yang khusyu’ dan bahasa yang santun sebagai wujud representasi pengagungan hamba kepada Sang Pemiliknya.

Misalkan:

Ya Allah, besok ayahku akan keluar kota untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami bagi istrinya dan ayah bagi anak-anaknya. Mohon perlindungan-Mu agar beliau senantiasa diberi keselamatan dan diberi kemudahan dalam menyelesaikan semua pekerjaannya,, Amien….

Kemudian yang kedua, minta dido’ain didefinisikan sebagai wujud permohonan tolong seseorang kepada teman-temannya agar ikut mendo’akan sesuai dengan apa yang dia harapkan. Tentu saja konteksnya sangat berbeda dengan berdo’a karena dialog yang terbentuk adalah dialog antara satu insan dengan insan yang lain. Bahasa penyampaiannya pun akan jauh berbeda dengan bahasa yang disampaikan ketika kita berdo’a langsung kepada Tuhan.

Misalkan:

Temen-temen, besok ayahku akan keluar kota untuk menunaikan kewajibannya. Minta do’anya ya,,, agar beliau selalu diberi keselamatan dan diberi kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaannya….”

Kemudian yang terakhir, berdakwah didefinisikan sebagai sebuah usaha yang dilakukan untuk menyampaikan sesuatu yang benar. Dalam hal ini konteksnya adalah dalam hal berdo’a. Cara penyampaiannya pun bisa dalam bentuk dalil-dalil atau bisa juga dalam bentuk cerita-cerita penuh hikmah….

Misalkan:

Contoh dari seorang kawan: kita menyampaikan kepada orang lain tentang bagaimana tata cara berdo’a yang baik dan benar berdasarkan aturan-aturan yang berlaku dalam islam dengan maksud agar orang menjadi tahu dan bisa mengambil ibrohnya….

Setelah kita memahami definisi tersebut, tentu lah kita akan merasa bingung dan bertanya-tanya… Kenapa orang berdo’a [yang notabene adalah diskusi antara hamba dengan Tuhannya] harus disampaikan melalui status di Facebook [yang notabene adalah sebuah ruang komunikasi antar insan dengan insan],,, tidak salah jika ada pertanyaan menggelitik yang disampaikan oleh salah satu temen saya… “emang Tuhan punya account di Facebook ya?” ^_^

Jika seseorang berdo’a sesuai dengan substansinya, seharusnya mereka ga perlu mempublikasikan isi do’anya itu kepada khalayak ramai. Ada pun jika ada maksud di balik itu, misalkan minta dido’ain ma yang lain atau berdakwah, tentu lah di sampaikan dengan redaksi yang baik dan benar [tidak seperti berdialog antara hamba dengan Tuhannya… ] ^_^

Demikian seuntai pemikiran dari saya, mudah-mudahan bermanfaat. Mohon maaf jika kata-kata saya terkesan menyerang sebagian orang. Di luar itu, saya hanya berusaha untuk menyampaikan sesuatu yang benar menurut pemikiran saya….