Review Sennheisser PX200-II : Kualitas Suara yang Tidak Sekecil Bentuknya

Pertanyaan pertama saat saya baru pertama kali membeli headphone ini adalah, apa bisa headphone sekecil ini mampu menghasilkan suara yang detil dan menggelegar?

Kesan pertama mengenai desain headphone?

(+) Dengan bentuknya yang kecil dan ringan, Sennheisser PX200-II memang nyaman dipakai di telinga. Tidak mudah bikin cape telinga walaupun dipakai dalam waktu yang lama. Desain headphone tipe ini memang bisa dilipat, jadi lebih mudah untuk disimpan dan tidak memakan terlalu banyak tempat. Apalagi kerangka dalamnya dibenamkan plat logam elastis yang membuat headset ini tetap elastis namun tidak cepat patah.

Sennheisser PX200-II

(-) Sayangnya, desain ear cup Sennheisser PX200-II terlalu kecil dan tidak pas di telinga. Kulit penutup bantalan di bagian lingkar kepala terbuat dari bahan yang rapuh dan mudah terkelupas. Sennheisser PX200-II juga masih memakai kabel sebagai penghubung. Dan yang paling membuat khawatir adalah kabel yang dipakai memiliki diameter yang sangat kecil dengan bahan pelindung yang tidak terlalu kuat. Diperlukan perhatian ekstra hati-hati agar kabel tidak mudah putus.

Kesan pertama mengenai kualitas suaranya?

Pada kenyataannya, pada saat minggu-minggu pertama saya mendengarkan musik dengan Sennheisser PX200-II, kesan pertama yang saya rasakan adalah headphone ini memiliki komposisi suara treble yang detil, ringan, namun bassnya tidak terlalu nendang. Yah, koq gini sih? Apalagi ketika saya mencoba membandingkan dengan Sennheisser PX100-II milik teman. PX100-II yang lebih rendah dari PX200-II saja memiliki bass yang oke dan menggelegar, koq yang PX200-II malah terkesan kurang waw. Jauh dari ekspektasi saya sebelumnya.

Apa mungkin Sennheisser yang saya pakai adalah produk KW? Maklum, headphone Sennheisser PX200-II ini saya beli di salah satu toko kecil di Harcomas seharga Rp. 800.000,- [harga di pasaran berkisar Rp. 1.100.000,-].

Sennheisser PX200-II

Sennheisser PX200-II

Saya agak merasa sedikit kecewa. Namun saya masih bisa berfikir positif. Mungkin headphone tersebut perlu diburn-in dulu dalam beberapa waktu untuk bisa mencapai suara yang optimal.

Apa yang harus dilakukan untuk mem-burn-in?

Menurut informasi mas-mas penjaga toko di BIP waktu dulu beli AKG K420, headphone baru memang masih memiliki diafragma yang sempit sehingga suara yang dihasilkan masih kaku dan belum menunjukkan kualitas aslinya. Headphone baru memang harus diburn-in terlebih dahulu dengan cara dipakai secara terus menerus pada volume menengah (sekitar 50%) agar diafragma lebih mengendur dan elastis secara perlahan. Dengan cara itu, kualitas suara perlahan akan mengalami peningkatan hingga mencapai kualitas optimal.

Kelebihan setelah di-burn-in?

Setelah beberapa bulan saya memakai headphone ini, suara aslinya sudah semakin terdengar. Proses burn-in ternyata memang sangat bermanfaat dalam meningkatkan performa headphone. Saat ini suara headphone saya sudah semakin nyaring, suara trebelnya renyah, detail, dengan performa bass yang solid dan semakin nendang.

Apa kekurangannya?

Kualitas suara yang bagus itu harus dicoreng dengan kekurangan kecil yang sedikit menggangu. Seperti di jelaskan di atas, desain ear cup-nya terlalu kecil dan tidak pas di telinga. Jika kita ingin mendengarkan suara dengan kualitas optimal, kita harus menggeser ear cup pada posisi yang pas.

Kesimpulannya?

Kekurangan pada desain yang dimiliki headphone Sennheisser PS200-II ini tidak mampu mengubah kenyataan bahwa headphone ini mempunyai kualitas suara yang menakjubkan. Meskipun harus sedikit repot dengan mengatur letak ear-cup dan ekstra hati-hati dalam menjaga kabel agar tidak putus, namun saya tetap masih bisa menikmati kualitas suara secara optimal, baik ketika mendengarkan musik maupun pada saat menonton film. Overall, saya merasa puas dengan performa suara yang dihasilkan.

Intinya, jangan berani men-judje Sennheisser PX200-II karena ukurannya yang kecil, sebelum anda merasakan sendiri kualitas suaranya.

Advertisements

[Headphone] Berjodoh dengan Si Kecil Sennheisser PX200 – II

Proses pertemuan saya dengan headphone ini emang agak sedikit unik. Saat itu, Januari 2014, kondisi ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi kurang baik. Harga rupiah terhadap dollar semakin melemah. Hal ini berimbas kepada harga barang elektronik yang masuk ke Indonesia, termasuk harga headphone. Padahal waktu itu saya lagi butuh-butuhnya membeli headphone.

sennheiser_px200_II

Senheisser PX200-II

Waktu itu, saya sempat mencoba headphone Sennheisser PX100 – II milik teman kantor. Dengan bentuknya yang kecil, saya tidak yakin bahwa headphone tersebut mampu menghasilkan suara yang detail dan menggelegar. Namun, saya tidak begitu saja meng-underestimate mengingat nama besar sennheisser sudah terdengar kemana-mana dengan kualitas suara yang oke.

Ternyata benar dugaan saya. Setelah saya dengar, ternyata bass-nya terasa begitu nendang. Bentuknya yang kecil dan ringan, dengan busa yang menyelimuti ear cup membuat headphone tersebut terasa nyaman di telinga. Akhirnya saya memasukan headphone tersebut ke dalam salah satu alternatif headphone yang saya inginkan.

Memburu headphone melalui online shop

Niat saya untuk membeli headphone sudah bulat. Beberapa alternatif headphone sudah saya list, dari merk AKG, Bose, phillips, panasonic hingga sennheisser. Range budget yang saya rancang berkisar antara 700 ribu hingga 1 jutaan.

Harga standar online ship untuk Sennheisser PX100-II waktu itu berkisar Rp. 880.000,- ; Senheisser HD229 Rp. 850.000,- ; Sennheisser PX200-II Rp. 1.100.000,- ; AKG420 Rp. 750.000,-. Berdasarkan pertimbangan tersebut, kemudian saya memilih Sennheisser HD229. Saya berniat membelinya di online shop setelah dapet gajian.

Pertemuan yang tak disengaja

Suatu sore, sepulang dari kantor, saya mengantar teman untuk membeli perlengkapan elektronik di harcomas, Jakarta. Niatnya sekalian beli handphone titipan keluarga dan stick untuk maen game. Saya diajak untuk mengunjungi toko langganan si kawan. Tokonya kecil, barang-barang yang dijual pun tidak terlalu banyak. Kebanyakan aksesoris komputer kelas menengah ke bawah seperti mouse, keyboard, dsb.

Pada suatu sudut, saya melihat sebuah bungkus kecil, berdebu, warna hitam, bertuliskan sebuah logo yang tak asing buat saya. Saya menebak itu adalah headphone Sennheisser. Tapi dalam hati, saya berfikir itu tidak mungkin. Melihat kalangan orang yang membeli di sini, barang seperti itu mana mungkin dijual di sini. Kalau pun ada, paling yang KW. Saya harus berhati-hati karena sudah banyak tiruan Sennheisser yang beredar di pasaran.

Setelah saya lihat lebih seksama, ternyata barang itu adalah Sennheisser PX200-11 dan HD229. Dua tipe headphone yang selama ini saya cari. Saya meminta pelayan untuk menurunkan kedua headphone tersebut untuk melihat harga dan mengecek keasliannya. Dengan harga yang tertera dan stiker hologram distributor yang tertempel di kotaknya, saya yakin bahwa ini adalah produk Sennheisser yang asli.

Bandrol yang tertera menunjukkan harga Rp. 750.000,- untuk HD229 dan Rp.850.000,- untuk PX200-II. Harganya sangat jauh lebih murah dari harga yang tertera di online shop. Dengan kondisi yang berdebu dan harga yang miring, tebakan saya adalah headphone ini telah mengalami dead stock di toko tersebut. Dengan harganya yang agak mahal (walau pun sebenarnya harga tersebut masih tergolong low ke middle), langganan toko tersebut tidak tertarik untuk membeli headphone tersebut. Di sisi yang lain, si penjual menyuplai headphone tersebut sebelum harganya naik.

Tebakan saya ternyata benar. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya mencoba menawar PX200-II dengan harga yang lebih rendah. Si penjual sanggup melepas barang di harga Rp. 800.000,-. Pada waktu itu saya belum ada uang. Tapi untukngnya, teman saya mau meminjamkan saya sehingga saya berhasil membeli headphone tersebut.

Saya pikir, Sennheisser PX100-II nya aja udah bagus, PX200-II pasti lebih bagus lagi. Apalagi, saya mendapatkan headphone tersebut dengan harga yang jauh lebih murah, bahkan jika dibandingkan dengan PX100-II.

Hingga saat ini, headphone tersebut sudah menemani saya kemana pun saya pergi, baik dalam suka mau pun duka.